Pintaku pada Ingus

Posted in @hijausenja on 28 January 2011 by arifun

@hijausenja


Lengket, lendir, licin, dan cair
Menetes satu-satu. Menjengkelkan
Batuk dan bersin datang bersamaan
“Kampret, Kau! Ingus sialan!”

“Jangan disedot!” kata pacarku
“Nanti kau sakit kepala” lanjutnya
Maka kulap saja pakai tissu
Sambil menggerutu dan menahan amarah

Dear, ingus, berbaik hatilah!
Bukan karena aku tak tahan sakitnya
Tapi aku tak kuat kalau harus puasa
Dari cipok pacarku yang ganas juga mesra

Bersama Penguasa

Posted in @nugiesque on 28 January 2011 by arifun

@nugiesque


Ketika gelap telah sempurna
Proyek ini seperti khianat:

Terhampar pundi-pundi persembahan
Berlimpah air penguak mimpi
Penuh desah pencakar berahi

“Inilah upacara kita! ” seru sang protokol

Dan kami pun berkhidmat,
bersama buih malam dan lenguh bulan

Patah

Posted in @adekmaia on 28 January 2011 by arifun

@adekmaia


Lelakiku,
Sudah cukup rasanya aku merasakan lengangnya padang ilalang
Bahkan kau mencuri semua, semuanya yang pernah ada, hingga kenangan sekalipun kau cabut dari ingatanku
Kakiku kian gontai mengaisi setiap jejak yang kau lupa bawa
Mata air di mataku pun bahkan sudah membeku.

Dirimu adalah puisi tersendu yang pernah kubaca
Namamu adalah ayat suci yang tak mampu lagi kueja
Dan,
Kini aku adalah kertas buram yang menunggu diurai zaman
Entah sampai kapan

Potongan-potongan Wajah

Posted in @adelliarosa, @njiegerardini on 28 January 2011 by arifun

@adelliarosa & @njiegerardini


Pagi tadi, kutemui kaki-kaki telanjang hitam menapak aspal kota yang rentan
Kaki-kaki miskin yang hafal betul wangi jalanan
Pagi tadi, di atas lidah-lidah yang membelah ibukota yang mewah, kutemui wajah-wajah lelah; bahkan seperti tak punya waktu untuk sekadar rebah
Siangnya, sengaja kulewati jalur yang sama
Masih kutemui muka-muka lusuh serupa
Meski dibungkus dengan orang yang berbeda
Wajah-wajah yang kosong, mungkin ruang otaknya pun ikut melompong
Hingga lidah dalam mulutnya bolong; sebab jeritan-jeritannya dianggap tong kosong oleh penguasa-penguasa sombong

Lalu aku berpaling ke badan kota sebelah kiri
Penuh jilatan lidah-lidah penguasa yang mencari simpati
Koar-koar tanpa arti
Sebilah janji sekilau belati
Menghunus jiwa-jiwa lemah hingga keberaniannya mati

Kepadamu yang Menabur Benih dalam Rahimku

Posted in @benin6 on 28 January 2011 by arifun

@benin6


Tak tahu harus bertutur dari mana
Ketika pertama jumpa, sebelumnya, atau saat kaunyatakan cinta
Pertama dan untuk selamanya, kubuka dua jalan bahagia dan duka, tergantung sang nahkoda
Hatiku yang sangat sering kau permainkan dengan dusta dan cinta
Maupun rahimku tempat kaumuntahkan napsu dan asmara

Mengenalmu kukenal dunia biru, cumbu, dan jilatan nafsu
Untukmu pertama kubuka mulut, kupasrahkan puting, dan kubuka celah di antara kedua paha menyambutmu
Darimu kupelajari nyeri ternikmat yang Tuhan cipta
Darimu kutahu guna baru lidah, telunjuk, dan payudara
Maka hanya denganmu kumampu nikmati semua

Pelan dan sabar kaubimbing aku
Muridmu patuh mengikuti semua petunjuk dan bahasa kamasutra
Sekali dua nyeri menghunjam ulu hati, perihnya tak terperi
Ketiga dan seterusnya kau ciptakan pemadat baru
Tubuh ini mengemis sentuhanmu

Pintaku satu, saat keriput menggores wajah cantikku
Ompong gigi memudahkan melumatmu
Menopause menurunkan gairahku
Kuingin kau tetap hangat mencumbuku
Dalam keropos tulang pinggulmu
Kita temukan formasi baru menuju surga

Sajak Sanitasi

Posted in @tweet_erland on 28 January 2011 by arifun

@tweet_erland


Tadi pagi ada yang mengambang lagi
Bukan bunuh diri
Memang, dia nyebur ke kali
Pasalnya, malu dengan pantat sendiri
Saat berak sendirian
Takut kelihatan ibu-ibu PKK yang nyeberang jembatan
Tak ingat
Dia tak bisa berenang

Mencintaimu

Posted in @daprast on 28 January 2011 by arifun

@daprast


Mencintaimu ternyata tak semudah dalam lagu
Meski parasmu amatlah ayu
Watakmu lembut nan lugu
Dan senyummu yang selalu sendu

Aku harus jungkir balik hanya untuk tunjukkan
Betapa besarnya cinta yang selalu aku janjikan
Betapa kujunjung tinggi masalah kesetiaan
Dan perjuangan demi kita punya masa depan

Itu pun selalu pertanyaanmu yang menanggapi,
“Benarkah aku satu-satunya yang kau cintai?”
“Benarkah kau ingin kita bersama sampai mati?
“Benarkah kau ingin mengikatku dengan janji nan suci?”

Muak aku mendengar semua
Yang setiap hari selalu saja sama
Tidakkah bisa kaulihat sendiri jawabnya
Tanpa perlu aku mengumbar kata?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.